Iptek Indonesia : Stigma yang Menghancurkan

โ€œStigma is a process by which the reaction of others spoils normal identityโ€

  • Erving Goffman

            Iptek merupakan topik yang marak disinggung di era globalisasi ini. Dunia internasional senantiasa bersaing dalam melakukan riset bidang iptek dan berinovasi. Di antara kegaduhan pasar perkembangan iptek dan inovasi dunia, di manakah posisi Indonesia? Menurut data GII (Global Innovation Index) 2020, dinilai dari output inovasi, Indonesia hanya menduduki posisi ke-76 dari 131 negara di dunia, sangat rendah apabila dibandingkan dengan negara tetangga kita, Singapura, yang menduduki posisi ke-8. Meskipun umur Singapura yang lebih muda, mereka jauh mengungguli kita di bidang inovasi iptek, mengapa demikian? Meskipun jawabannya sangat kompleks dan bercabang, salah satu penyebabnya dapat kita temukan pada masyarakat.

            Masyarakat Indonesia seringkali buta terhadap iptek, dapat dilihat buktinya pada paragraf sebelumnya. Buta terhadap konsep iptek dan buta terhadap gunanya pula. Mayoritas dari kita seakan-akan tidak ingin bersinggungan jalan dengan perkembangan teknologi. Proklamasi kemerdekaan 1945 dipandang sudah cukup dijadikan definisi Indonesia makmur, sehingga tidak diusahakan kembali kemakmuran itu sendiri. Kemakmuran dianggap sebagai suatu keadaan yang cukup hanya terjadi sekali, bukan sebagai keadaan yang harus secara konstan kita usahakan. Pola pikir yang demikian secara perlahan tapi pasti membentuk sebuah stigma terkait perkembangan iptek; โ€œBuat apa hal itu dilakukan? Bukankah keadaan sekarang sudah cukup?โ€.

            Dengan memegang stigma tersebut, masyarakat Indonesia tidak pernah melakukan eksplorasi terhadap Iptek dan perkembangannya. Mereka puas dengan menyelesaikan pendidikan dasar, lalu mencari sumber penghasilan. Pikiran mereka tertutup dari kemungkinan penghasilan yang lebih besar di balik pintu merah menuju perkembangan iptek, pintu merah yang dikunci stigma. Stigma ini menjadi pedang berarah dua, dimana ia membuat kita merasa nyaman dengan apa yang telah kita raih, namun sekaligus menutupi kita akan hal-hal lebih hebat yang menunggu kita. Tidak hanya Indonesia, seluruh negara yang mengadopsi stigma ini, lama-kelamaan akan memiliki nasib yang sama, ialah stagnasi ekonomi.

            Stagnasi ekonomi adalah keadaan dimana batas atas kemakmuran suatu negara seakan terkunci. Hal ini terjadi di saat suatu negara hanya dapat menjual barang bernilai rendah karena tidak memiliki iptek yang cukup untuk mengubahnya menjadi suatu barang yang bernilai lebih, dalam kata lain, buta iptek. Dapat dilihat bahwa penjelasan dari awal hingga kini telah membentuk siklus tertutup. Semua bermula dari buta iptek dan kini kita berada di tempat yang sama persis. Siklus tertutup ini menunjukkan bahwa seberapa sulit kita mencari jawaban, selama tidak ada upaya yang signifikan, maka kita tidak akan pernah menemukan jalan keluar.

            Mungkin beberapa orang melihat bahwa untuk melakukan upaya signifikan seperti yang telah disinggung tidak terlalu susah, dan memang benar pernyataan tersebut. Di dunia ideal, perbuatan tersebut bisa dibilang mudah, sangat mudah dibandingkan perjuangan para pendahulu kita. Namun, sayangnya pernyataan tersebut tidak berlaku sebegitu mudahnya di dunia kita. Perjuangan kita untuk keluar dari siklus yang harusnya mulus, telah dihalangi oleh adanya tembok stigma, stigma yang telah mengurung kita semua dalam siklus selama 75 tahun terakhir. Di sinilah kami, massa FMIPA ITB 2020, melakukan aksi. Kami membulatkan tekad untuk bersama menjadi pemantik terjadinya upaya signifikan tersebut, yaitu dengan merobohkan dinding stigma yang telah kokoh berdiri selama ini. Kami hendak memaparkan identitas asli dari iptek dan perkembangannya, beserta alasan tambahan bagi masyarakat Indonesia untuk mau bersama-sama merobohkan tembok stigma tersebut.

            Tujuan setinggi itu mustahil kami capai hanya dengan usaha kami sendiri. Apa daya usaha kami, massa FMIPA ITB 2020 yang hanya merupakan segelintir kecil masyarakat Indonesia, bila pada akhirnya kami berlawanan arus dengan usaha kumulatif masyarakat Indonesia? Maka kami berharap kepada kalian semua, segenap masyarakat Indonesia, untuk mau mengkritik diri, berani melakukan perubahan, berani untuk bertindak, dan juga, turut ikut serta aksi kami dalam merobohkan penghalang tersebut. Mari kita tunjukkan kepada dunia, bahwa kita, segenap bangsa Indonesia, bukanlah bangsa pasif yang terkurung dalam stigma, melainkan bangsa yang berani bertindak dalam memperjuangkan kemakmuran. Indonesia merdeka!

Aksi Angkatan FMIPA ITB 2020

Instagram        : @aksifmipa

Twitter             : @aksifmipa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *